Kegiatan Kami

Workshop : Cukai Rokok dan Mengapa Rokok Harus Mahal?

  • Gatari Dwi Hapsari
  • 2018-12-18
  • Worshop/Seminar
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia dengan jumlah dan prevalensi merokok yang tinggi. Berbagai penelitian telah membuktikan bahwa rokok merusak kesehatan, namun tingkat konsumsi terhadap rokok di Indonesia masih tergolong tinggi. Bahkan, Indonesia merupakan negara dengan proporsi perokok muda terbesar di kawasan Asia Pasifik. Fenomena perokok anak-anak menunjukkan bahwa rokok sangat mudah dijangkau oleh anak-anak. Bahkan di Indonesia rokok dijual secara ketengan dengan harga yang cukup murah. Satu bungkus rokok dapat dijual seharga Rp5.900,00 termasuk yang termurah di dunia.3 Meskipun Pemerintah telah berupaya mengendalikan konsumsi tembakau dengan memberlakukan cukai pada rokok, namun sampai saat ini upaya tersebut belum cukup signifikan, terutama untuk melindungi generasi muda. Mudahnya rokok dijangkau oleh masyarakat, bahkan oleh anak-anak, berkaitan erat dengan pemberlakukan cukai pada rokok. Sayangnya, hingga saat ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahui seluk beluk pentingnya cukai diberlakukan pada rokok. Bahkan, konsumsi rokok di Indonesia masih menjadi pemandangan yang umum ditemui, sehingga upaya membatasi konsumsi rokok kadang dianggap berlebihan. Sementara itu, masyarakat seolah lupa bahwa mudahnya rokok dijangkau menjadi ancaman tersendiri bagi kualitas hidup keluarga karena dampak negatif rokok dapat berimbas pada pengeluaran biaya kesehatan, kemiskinan dan pendidikan anak-anak. Sementara itu, tanpa disadari, besarnya konsumsi untuk rokok juga berdampak pada perempuan yang seringkali memainkan peranan penting dalam keluarga. Harga rokok akan berpengaruh pada pengeluaran rumah tangga. Kurangnya gizi bagi keluarga terutama untuk ibu yang sedang mengandung dapat menyebabkan proses tumbuh kembang anak dalam janin terganggu. Sebagai akibatnya anak lahir dengan tubuh yang tidak normal dan kerdil. Prilaku pengutamaan rokok disbanding gizi yang baik untuk keluarga menjadi fenomena yang sangat memperihatinkan dan sayangnya fenomena ini kini begitu mengkhawatirkan dengan meningkatnya anak yang lahir dalam kondisi fisik yang tidak normal (stunting). Mengingat pentingnya informasi terkait harga rokok dan kaitannya dengan tumbuh kembang anak dan stunting, SAPA – JP3T berencana untuk mengadakan sebuah kegiatan workshop guna memberikan gambaran tentang betapa pentingnya rokok mahal dan perlunya menaikkan cukai rokok demi melindungi masa depan anak Indonesia. Kegiatan ini dihadiri oleh perempuan dari berbagai perwakilan organisasi dan lebih dari 30 orang hadir di Kegiatan ini. Workshop dilaksanakan pada Senin, 30 Juli 2018 dan bertempat di Hotel Ibis Tamarin, Jakarta Pusat. Ada dua Pembicara pada Workshop ini, yaitu Dina Kania dari World Health Organisation (WHO) dan Dr. Abdillah Ahsan dari Fak. Ekonomi dan Bisnis UI. Menurut Dina, Strategi Dunia dalam melaksanakan Pengendalian Tembakau diformulasikan dalam strategi MPOWER. yaitu 1. Monitor penggunaan tembakau dan pencegahannya 2. Perlindungan dari asap tembakau 3. Optimalkan dukungan berhenti merokok 4. Waspadakan masyarakat akan bahaya tembakau 5. Eliminasi iklan, promosi dan sponsor produk tembakau 6. Raih kenaikan cukai tembakau Dari Keenam cara, Menaikkan Cukai Tembakau adalah yang paling efektif untuk mengurangi prevalensi merokok, Terutama bagi Kelompok anak dan Kelompok Rumah Tangga Miskin. Pendapat Dr. Abdillah Ahsan ialah "Mengurangi Konsumsi Rokok adalah Ibadah dan Jihad bagi Kemanusiaan." Upaya Berhenti merokok perlu dilakukan, karena (1) Merokok tidak islami (makruh/haram), (2) Merokok mubazir (membakar uang), dan (3) Merokok salah satu penyebab utama berbagai penyakit katastropik .

"Mengurangi Konsumsi Rokok adalah Ibadah dan Jihad bagi Kemanusiaan" -Dr. Abdillah Ahsan.


-

Share on

Post a Comment